Digital Planet

a journal of digital life

Sunday, August 07, 2005

Bisakah Kita Hidup tanpa Windows?

MULAI 3 Agustus 2005, versi beta Windows Vista--yang sebelumnya dikenal dengan nama kode Longhorn--akan dibagi-bagikan perusahaan pembuat peranti lunak, Microsoft Corp, kepada sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah fokus grup dari berbagai belahan dunia.

Mereka akan diminta menguji coba dan mengoprek-oprek peranti lunak sistem operasi teranyar yang sudah lama ditunggu-tunggu itu. Umpan balik dari mereka sangat penting dan akan mempengaruhi Microsoft dalam menetapkan kapan versi beta berikutnya dirilis. Ini juga akan mempengaruhi perusahaan yang bermarkas di Redmond itu dalam menetapkan kapan Windows Vista akan dirilis secara luas dan komersial.

Microsoft menjanjikan fitur-fitur unggulan dalam sistem operasi ini. Beberapa di antaranya adalah keandalan kemampuan grafis, mesin pencari, sistem pengorganisasian informasi, dukungan terjadi jaringan komputer, jaminan keamanan yang tinggi, hingga dukungan terhadap protokol baru Internet, IPv6.

Di luar reaksi yang beragam terhadap penggunaan nama Vista--karena ini memang sebuah nama yang sudah sangat "pasaran" sebelumnya--sistem operasi teranyar ini memang layak dinantikan kehadirannya. Pasalnya, apa pun yang akan ditawarkan Windows, orang pasti akan tetap membeli karena sistem ini adalah penguasa lebih 90 persen sistem operasi di dunia.

Sistem operasi adalah nyawa bagi komputer. Tanpa peranti lunak ini, komputer hanyalah seonggok perangkat keras bodoh yang tak bisa apa-apa. Sistem operasilah yang menjadi sumber energi yang menggerakkan komputer dan menjadi pintu gerbang utama bagi peranti lunak aplikasi lain untuk dapat beroperasi di lingkungan Windows.

Di sinilah kejeniusan Bill Gates, pendiri Microsoft. Ia tahu persis: ketergantungan komputer terhadap sistem operasi akan semakin tinggi dari waktu ke waktu dan bukan sebaliknya. Inilah yang melatarinya dalam memfokuskan bisnis peranti lunak di sistem operasi.

Dari situlah bagaimana Microsoft bermula menjadi bagian dalam sejarah kontemporer komputer pribadi alias PC. Ambisinya adalah "setiap komputer di setiap rumah dengan Windows yang menjadi jendelanya".

Sistem operasi Windows menemukan momentumnya ketika teknologi antarmuka (GUI) komputer semakin maju. Mereka merilis Windows 3.1, Windows 95, Windows ME, Windows 2000, dan Windows XP--termasuk di dalamnya versi-versi untuk server.

Tanpa disadari, para pengguna komputer pribadi sudah semakin familiar dengan Windows. Pertumbuhan jumlah pengguna Windows melesat dengan cepat. Hampir semua orang terbiasa dengan cara berpikir dan hierarki Windows--sebuah kebiasaan yang sukar dilepaskan pengaruhnya. Sampai kini.

* Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 31 Juli 2005

Ada Komputer, Ada Hacker

ADA dua hantu yang kini paling ditakuti di dunia: teroris dan hacker. Yang pertama mengancam nyawa manusia dan berdampak secara politik, yang kedua mengancam komputer dan berdampak secara ekonomi dan bisnis.

Yang satu ditakuti oleh pemimpin negara, satunya lagi ditakuti oleh direktur perusahaan besar. Pendeknya, bagi kedua makhluk yang berkedudukan sebagai bos ini, hidup pasti akan lebih indah tanpa hantu-hantu itu.

Tapi yang namanya hantu tak pernah mau berlalu begitu saja. Dunia hantu ini juga sangat misterius. Banyak sekali mitos dialamatkan kepada mereka, tapi juga tak sedikit fakta yang membelalakkan mata.

Fakta terbaru kembali terjadi pekan lalu. Seorang pemrogram komputer asal Austria berhasil mengeksploitasi celah-celah dalam teknologi yang akan menjadi bagian dari sistem operasi Microsoft teranyar, Windows Vista.

Bukan hanya Microsoft, vendor jaringan terbesar, Cisco Systems, juga tak luput dari ancaman hacker. Para penyusup ini berhasil memanen data dan password dengan cara memanfaatkan celah pada peranti lunaknya.

Jelas bukan hal sederhana: penyusup berhasil mengusik Windows, yang menguasai 90 persen pasar sistem operasi di dunia, dan mencolek Cisco, yang menguasai pasar jaringan dan infrastruktur teknologi informasi dunia.

Mengapa para hacker ini sangat doyan menyusup dan mengusik? Mengapa mereka harus lahir ke dunia ini?

Ada banyak motivasi yang melatari hacker untuk beraksi: sekadar pamer kekuatan, menguji kemampuan, menjawab keingintahuan, atau karena ketagihan.

Bahkan ada juga hacker yang niatnya membantu. Mereka misalnya membobol kode-kode tertentu dan membaginya kepada siapa saja yang membutuhkan. Alasannya, bukan orang berduit saja yang berhak terhadap informasi.

Selain itu, ada hacker yang secara profesional memang dibayar untuk mencari kelemahan suatu produk teknologi. Bahkan ada yang berasal dari orang dalam perusahaan yang kemudian menjadi target. Artinya, ada motivasi ekonomi di dalamnya.

Namun, menurut seorang pakar komputer, meski dirasakan lebih banyak menimbulkan kerugian, keberadaan hacker tidak bisa dinafikan dalam sejarah perkembangan komputer. "Di mana ada komputer, di situ ada hacker," ujar Randall.

Malah, katanya lagi, sejatinya mereka ikut membantu membesarkan dunia komputer. "Merekalah yang membuat para insinyur teknologi tak boleh lengah, tak boleh rakus, dan harus bersedia dikoreksi kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam produknya."

Bravo hacker!

* Dimuat di Koran Tempo, Minggu, 07 Agustus 2005